Tampilkan postingan dengan label Purbalingga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Purbalingga. Tampilkan semua postingan

Senin, 13 Mei 2013

Matahari

Pertama kali datang ke kota ini aku mengagumi mataharinya. Matahari yang sama dengan yang terlihat di kotaku memang, tapi disini serasa lebih besar dan terik. Ya, Samarinda memang lebih dekat dengan khatulistiwa daripada Purbalingga. Dan baiknya, aku merasa lebih jauh dengan masa laluku di Kota Perwira. Masa lalu yang ingin kutinggalkan.

Adalah Harti, biar kali ini saja kusebut namanya lagi. Ia seorang buruh pabrik rambut palsu yang selingkuh di belakangku, dan ketika kucecar ia dengan lantang mengiyakan. Sakitnya ia mengagungkan selingkuhannya itu lebih baik dariku. Mau menjemputnya setiap sore dan bahkan menunggui ketika ia harus lembur. Sementara aku katanya, cuma bakul bakso yang otaknya seperti gerobak. Macet kalau tidak diopyak-opyak.

Dua minggu usai putus aku mengonggokkan gerobakku begitu saja. Bukan, bukan tidak terima dikatai otak gerobak, tapi justru aku yang kasihan dengan gerobak baksoku itu, dijadikan bahan makian karena kebodohanku. Sudah saatnya aku memecut diri. Maka ketika ada lowongan kerja pertambangan di Kalimantan, aku segera mengirimkan lamaran. Kuandalkan ijazah SMK-ku 3 tahun lalu.

Senin, 25 Februari 2013

Sang Mempelai


image source: google.com
Santi menatap teman-temannya yang sedang berdandan. Biasanya ia yang jadi yang paling lama, dan paling dinanti.

Wah, nyonyahe wis ayu pisan1,” goda Leni, mantan teman sepanggunya. Ya, kini Santi adalah seorang mantan reog.

Jika kemarin lalu ia dijuluki Sang Penari, layaknya  Srintil dalam film, sekarang ia adalah Sang Mempelai. Mempelai dari seorang paling kaya di Desa Karangsari, mungkin juga sekecamatan Banyumanis.

Pria itu adalah Gatot Pramana, juragan kayu, ayam, wedus2, sapi, dan pemilik berhektar-hektar sawah. Saat sarahan3 3 hari lalu saja ia membawa setruk suluh4, dua jago gagah, dua bandot5 kekar, seekor sapi super, dan 5 karung beras. Belum lagi 30gram emas dan hantaran lainnya.

Minggu, 03 Februari 2013

Pari Budin

Malam sampai di ujungnya. Langit gelap, bulan yang menua tak tampak. Harun mengendap-endap di samping sebuah rumah.

Ditaburkannya beras sambil berjalan mundur. Pemuda itu komat-kamit mengingat mantra yang diajarkan Dukun Sapto maghrib tadi disaksikan lurahnya.

Beras karo jampi kuwe bakal gawe warga nglembroh, terus mesti milih ko, Drajat! Gambar pari sing nomer siji1,” yakin Dukun Sapto. Lurah Drajat dan 3 orang pemuda lainnya manggut-manggut.

Harun kebagian menaburkan beras di Dusun 4, dimana pendukung Lurah Drajat masih sedikit. Ia semangat saja, apalagi ia dijanjikan tambahan uang ratusan ribu sebagai upahnya.

Tinggal beberapa jengkal lagi dan selesai, tapi tiba-tiba… “Hei!”

Minggu, 30 Desember 2012

Tak Sudi


Apa gajimu kurang, Pak?
Sepertinya tidak. Hidupmu enak.
Setiap hari tak harus menarik becak
Atau tidur di emperan
Tapi kenapa akte anakku kau persulit?

Bayarnya mahal, jadinya lama
Pak guru sudah bolak-balik menanyakan
Aku jadi tak konsen menggenjot becak
Duduk lelah di depan pertokoan
Menyaksikan hidup hedonis perkotaan
Dan kulihat kau menuntun anakmu
Yang seumuran anakku
Pak, apa anakmu sudah punya akte?

Jumat, 30 November 2012

Rangkuman Workshop Penulisan Skenario @Owabong Cottage – Day 2

Foto bareng usai workshop (mirip rombongan tour :p )

Hari kedua Workshop Penulisan Skenario (30/11) dimulai. Kami sarapan terlebih dahulu, lalu pukul 08.00 mulai melanjutkan pembahas semalam tentang premis. Meski semalam aku nggak bisa tidur pulas karena kedinginan, kepanasan, kedinginan lagi, aku tetap mencoba konsentrasi mengikuti.

Usai merampungkan bahasan premis, Mas Pidi lanjut ke bahasan baru dengan melontarkan pertanyaan, “Apa itu karakter? Apa itu karakterisasi?”

Kamis, 29 November 2012

Rangkuman Workshop Penulisan Skenario @Owabong Cottage – Day 1


“Skenario yang baik belum tentu menjadi film yang baik. Tapi film yang baik pasti dibuat dari skenario yan baik.”

Kalimat yang disampaikan oleh Perdana Kartawiyudha itu menjadi pembuka sesi 1 workshop penulisan skenario “6 Tahun Festival Film Purbalingga” siang ini (29/11). Pembicara utama yang akrab disapa Mr.Pidi itu lalu menguraikan problem umum penulisan skenario yang kerap dijumpai. Problem itu antara lain tidak memahami cara kerja film, kurangnya referensi, salah mengartikan skenario, dan kurang mampu memilih ide serta cara mengembangkannya.

Pembahasan langsung diselingi tanya jawab tentang kesulitan yang pernah peserta alami. Saya sendiri menanyakan bagaimana caranya mengatasi roaming. Maksudnya jika ada pesanan skenario yang meminta tema gaya hidup perkotaan dan segala macamnya, tapi kita sendiri tinggal bukan di kota besar dan memiliki gaya hidup yang biasa-biasa saja. Maka menurut Mas Pidi (saya lebih suka manggilnya begitu), solusinya adalah riset, bisa dari buku-buku, internet, atau mendengarkan cerita orang agar kita punya gambaran. Sebaliknya, ia mengingatkan untuk tidak membuat cerita yang terlalu personal dan memaksakan keinginan pribadi.

Kamis, 22 November 2012

13 Wijayakusuma

Ibu kostku tiba-tiba begitu semangat mengajakku keluar melihat bunga wijayakusuma yang katanya baru mekar maghrib tadi. Aku pun manut mengikutinya.


Dan aih..cantiknya.

Bunganya berwarna putih dengan kelopak besar-besar dan harum sekali.. Hebatnya, ada 13 bunga yang mekar secara bersamaan. 11 di samping kiri rumah dan 2 di samping kanan. Semarak.

Ibu dan bapak kost pun bergantian menceritakan kisah di balik bunga wijakusuma itu.

Minggu, 18 November 2012

Kunci


“Tapi aku nggak punya bayangan kalau nggak sama dia, Cha. Sama siapa, gimana,” Runi memulai lagi sesi curhatnya setelah terdiam lama.

“Ah, Mba’e aja yang nggak percaya diri,” timpal Icha. Mereka berdua berselonjor di kamar kost Runi. Di luar langit mengukuhkan mendung.

“Sama temenku aja gimana, Mba?” pancing Icha lagi. Meski Runi lebih tua 3 tahun darinya, Icha kadang yang jadi tempat curhat, kadang pula gantian.

“Ogah. Temenmu emang ada yang beres?” Makin tak terbayangkan bagi Runi untuk selingkuh dengan salah satu teman Icha.

“Iiih, Mbae. Ada lah. Ada tuh yang perhatian, baik. Tapi masih 19 tahun. Hehe...,” cengir Icha.

“Ogah banget,” tolak Runi keki.

“Ada lagi, Mba. 25an kayaknya umurnya. Guru,” Icha tak menyerah berpromosi.

“Teyuuss?” kali ini Runi pura-pura tertarik.

Kamis, 11 Oktober 2012

Pangkalan Udara

“Aryaaa.. Tunggu!”'

Anak lelaki bertubuh gendut itu mengejar temannya. Yang dikejar tertawa-tawa karena tak tersusul.

Pesawat tua di pinggir lapangan jadi tujuan mereka.

“Hhhh.. Kamu larinya cepat sekali,” keluh si gendut Farhan sambil mengatur nafasnya.

“Makanya kamu jangan makan terus,” ledek Arya yang sampai lebih dulu di kabin pesawat yang seperti lorong itu. Farhan manyun.

“Far, kalau sudah besar aku mau jadi TNI Angkatan Udara!” kata Arya kemudian dengan mantapnya di pintu pesawat. Rambutnya dimainkan angin.

“Kalau aku mau jadi polisi. Biar bisa nembak kamu. Do do do dorr!” Farhan mengacungkan jarinya seolah pistol.

Kamis, 13 September 2012

Korup Ora Korup

Rudi butuh seragam baru. Kemeja putihnya sudah kuning. “Piwe arep olih pacar nek klambiku blusuk kayak kiye?1”

Minggu lalu ia sudah mengutarakan hal itu kepada ibunya.

Sabar, Rud. Minggu ngarep bapakmu gajian. Ibu ya kepengen tuku gamis anyar nggo kondangan,2” kata ibunya.

Malam ini bapaknya kedatangan tamu, Pak Lurah. Kamar Rudi yang bersebelahan dengan ruang tamu membuatnya leluasa menguping.

Selasa, 31 Juli 2012

CINTA GILA

Sehabis dari Kelas Menulis tadi sore, aku naik angkot di Mayong. Saat aku masuk, sudah ada 4 orang penumpang.

Satu bapak di samping supir, satu mbak di belakang, dan satu mbak serta seorang bapak lagi di dekat pintu. Aku duduk di pojok belakang, berhadapan dengan mbak cantik berbaju merah.

Tapi bukan dia yang menarik, melainkan si mbak berbaju pink dekat pintu. Dia tiba-tiba menyanyi.

“Tak akan ada selain kamu, cuma kamu ya hanya kamu.. Purnama..,” ia menyanyikan lagu Diantara Bintang dari Hello Band, meski ujungnya nggak nyambung. Suaranya beradu dengan musik dari kios CD di pinggir Mayong.

Dan hei, tau gak? Suaranya merdu lho!

Aku dan si mbak berbaju merah sampai menengok. Kuperhatikan perempuan berumur 20 tahunan itu.

Kamis, 03 Mei 2012

Bulan-Bulanan

Kemarin baru saja April
Hujan mulai jarang, pagi menjadi lebih dingin
Perempuan-perempuan tetap bangun subuh hari
Mencuci lelah semalam, bergegas lagi ke pabrik
Berpapas anak sekolah kuru pendiam
Ujian, ujian, ujian!
Tak boleh satu butirpun melorot dari kepala
Dan April merangkak ngebut, klimaks di akhir cekikan

Mei datang, langsung gaduh

Senin, 30 April 2012

Bu Ruh

Kapan ko arep liren?1 ” seorang lelaki bertanya sambil memijat pundak istrinya. Yang dipijat tengah berjongkok menuntaskan mual yang menjalari perut dan mulutnya.

Nembe wolung wulan. Lirene ya mengko nek wis arep mbabar nembe olih2,” Ruhyati, perempuan yang sedang hamil 8 bulan itu hendak berdiri. Namun, kakinya lemas dan…mual itu menyerang lagi. “Hueekk…”

Ko kuwe keselen. Melasi bayine dhewek3,” Tarno, si lelaki penyabar itu memijat pundak istrinya lagi. Nelangsa.

Senin, 23 April 2012

Nyala Mata Perempuan Purbalingga

Perempuan-perempuan di kotaku, Purbalingga, Jawa Tengah, adalah pahlawan keluarga dan industri. Mereka bekerja membuat bulu mata palsu dan wig (rambut palsu) di pabrik-pabrik milik investor Korea, plasma1, bahkan rumah-rumah. Tak kenal lelah, meski sebenarnya ironi dan eksploitasi. Mereka bertahan dengan upah rendah, jam kerja tak lumrah, dan mata lelah. “Tak apa, asal anak bisa sekolah, asal dapur tetap ngepul,” aku mereka. Mereka rela bekerja siang malam, mengaitkan ratusan helai bulu mata palsu satu-persatu, setiap hari. Mereka rela meninggalkan anak-anak kecil mereka dengan nenek atau ayahnya. Sampai marak istilah “Pamong Praja” alias papa momong mama kerja (bapak merawat anak, ibu bekerja).

Minggu, 12 Februari 2012

Ekspresi Anak-Anak Berlomba

Hari ini hari minggu yang berbeda. Aku tidak ke Kelas Menulis Purbalingga seperti biasanya. Pagi ini aku sudah berangkat ke Dusun Pagerjirak, Kejobong dan bersama Mba Titi aku menuju SD N 3 Kejobong.

Hari Minggu ini suasana SD N 3 Kejobong juga berbeda. Banyak anak-anak seperti hari sekolah biasa. Ada apa, ada apa?

Lomba menggambar dan mewarnai! Asyiiikk..

Mbak Titi dan Meretas Ruku

Dwititi Maesaroh, aku memanggilnya Mba Dwi, kadang juga Mbak Titi. Aku mengenalnya belum lama. Waktu itu lihat di FB teman, ternyata dia tinggal di Pagerjirak, Kejobong, dekat desaku, jadi aku add.

Lalu aku lihat foto-foto Rumah Baca yang dia upload. Tertarik!

Aku pun mengiriminya pesan lewat FB, disambut baik. Saat cerita kepada Mas Bangkit, mentor Kelas Menulis Purbalingga, aku juga disuruh menulis tentang Rumah Bacanya untuk rubrik Tilik Kampung di Suara Merdeka.

Minggu, 05 Februari 2012

Seks? Ini Ceritaku…

Sore tadi, aku dan Via sedang menikmati es krim di tengah alun-alun Purbalingga ketika tiba-tiba seorang lelaki mendekat. Lelaki berpakaian kumal dan mata kirinya terlihat cacat itu tiba-tiba menyodorkan layar HP-nya. Muncul gambar selangkangan diiringi suara lenguhan. OH MY GOD!

Aku dan Via buru-buru lari menghindar. Iiihh…

Eh, Via yang memang suka agak telat nyaut malah bertanya polos,”Emang tadi apaan sih?” “Itu video BF tauk!” kataku gemas.

Senin, 26 Desember 2011

CLC Purbalingga: Internet Bantu Dongkrak Gairah Film Lokal, Pemkab Hobi Mencekal

CLC Purbalingga: Internet Bantu Dongkrak Gairah Film Lokal, Pemkab Hobi Mencekal1

Oleh: Nurul Aulia Alfiyah


“Mau pemerintah bubar kita juga tetap bisa jalan,” ungkap Bowo Leksono, Direktur CLC Purbalingga, santai tapi tegas. Tidak tampak raut kekhawatiran sama sekali di wajah lelaki tambun ini akan nasibnya beserta komunitasnya.

Purbalingga Kota Film

Purbalingga adalah sebuah kota kecil di Jawa Tengah, tepatnya di kaki Gunung Slamet. Saat mencari informasinya di Google, Anda boleh percaya kota ini adalah kota pembuat wig (rambut palsu) dan bulu mata palsu terbesar di Indonesia2. Namun, selain itu Anda juga patut percaya Purbalingga adalah kota film, bahkan ada yang menyebut Purbalingga Hollywood-nya Indonesia3.

Selasa, 20 Desember 2011

Lama


Pukul 06:30 Sutono sudah siap menunggu bis di depan rumahnya. Ia masih ingat semalam ia menunggu lama di bengkel tapi motornya belum beres.

5, 10, 15 menit Sutono menunggu dan bis baru datang. Sutono menggerutu.

Di dalam bis yang penuh oleh anak sekolah dan perempuan PT itu ia tidak dapat tempat duduk. Ia menunggu setengah jam hingga semua anak sekolah turun untuk dapat tempat duduk disamping seorang bakul wedus. Sutono menggerutu lagi.

Senin, 24 Oktober 2011

Cerita Simbah

Assalamu ‘alaikum warrohmatullahi wabarrokatu.

Tak biasanya ya, aku mengawali catatanku dengan salam? Bukan karena aku mau pidato lho. Dan bukan tanpa alasan pula. Hari ini aku belajar banyak, termasuk nikmatnya saling mengucapkan salam sesama muslim.

Minggu pagi ini, sudah kuniatkan mendatangi pengajian di Masjid Agung Darussalam Purbalingga. Aku berangkat sendiri, hanya diantar bapak sampai pangkalan angkot di Gembrungan. Dua orang teman yang kuajak mengatakan tidak bisa. Ah, tak apa. Toh, aku biasa pergi kemana-mana sendiri. Apalagi niatnya baik, mengaji, insyaallah aman dan bertemu sesama jamaah di sana.

Sampai di Purbalingga, aku sempat berdiri beberapa saat di alun-alun, membaca koran dinding yang baru diganti, juga mengamati beberapa orang yang duduk-duduk dan berjalan di lingkaran batu refleksi di bawah pohon beringin. Setelah kulihat beberapa orang memasuki masjid, kuputuskan menyeberang dan masuk lewat jalan samping kanan masjid.