Pertama kali datang ke kota ini aku mengagumi
mataharinya. Matahari yang sama dengan yang terlihat di kotaku memang, tapi
disini serasa lebih besar dan terik. Ya, Samarinda memang lebih dekat dengan
khatulistiwa daripada Purbalingga. Dan baiknya, aku merasa lebih jauh dengan
masa laluku di Kota Perwira. Masa lalu yang ingin kutinggalkan.
Adalah Harti, biar kali ini saja kusebut
namanya lagi. Ia seorang buruh pabrik rambut palsu yang selingkuh di belakangku,
dan ketika kucecar ia dengan lantang mengiyakan. Sakitnya ia mengagungkan
selingkuhannya itu lebih baik dariku. Mau menjemputnya setiap sore dan bahkan
menunggui ketika ia harus lembur. Sementara aku katanya, cuma bakul bakso yang
otaknya seperti gerobak. Macet kalau tidak diopyak-opyak.
Dua minggu usai putus aku mengonggokkan
gerobakku begitu saja. Bukan, bukan tidak terima dikatai otak gerobak, tapi
justru aku yang kasihan dengan gerobak baksoku itu, dijadikan bahan makian
karena kebodohanku. Sudah saatnya aku memecut diri. Maka ketika ada lowongan
kerja pertambangan di Kalimantan, aku segera mengirimkan lamaran. Kuandalkan
ijazah SMK-ku 3 tahun lalu.