Malam sampai di ujungnya. Langit gelap, bulan
yang menua tak tampak. Harun mengendap-endap di samping sebuah rumah.
Ditaburkannya beras sambil berjalan mundur. Pemuda
itu komat-kamit mengingat mantra yang diajarkan Dukun Sapto maghrib tadi disaksikan
lurahnya.
“Beras karo
jampi kuwe bakal gawe warga nglembroh, terus mesti milih ko, Drajat! Gambar pari sing nomer siji1,” yakin
Dukun Sapto. Lurah Drajat dan 3 orang pemuda lainnya manggut-manggut.
Harun kebagian menaburkan beras di Dusun 4, dimana
pendukung Lurah Drajat masih sedikit. Ia semangat saja, apalagi ia dijanjikan
tambahan uang ratusan ribu sebagai upahnya.
Tinggal beberapa jengkal lagi dan selesai, tapi
tiba-tiba… “Hei!”




