Aku mengikat harap di tiang gantung
Terjun ke jurang yang kugali dalam
Menenggak racun yang kukata obat
Kamis, 05 Januari 2012
Senin, 26 Desember 2011
CLC Purbalingga: Internet Bantu Dongkrak Gairah Film Lokal, Pemkab Hobi Mencekal
CLC Purbalingga: Internet Bantu Dongkrak Gairah Film Lokal, Pemkab Hobi Mencekal1
Oleh: Nurul Aulia Alfiyah
“Mau pemerintah bubar kita juga tetap bisa jalan,” ungkap Bowo Leksono, Direktur CLC Purbalingga, santai tapi tegas. Tidak tampak raut kekhawatiran sama sekali di wajah lelaki tambun ini akan nasibnya beserta komunitasnya.
Purbalingga Kota Film
Purbalingga adalah sebuah kota kecil di Jawa Tengah, tepatnya di kaki Gunung Slamet. Saat mencari informasinya di Google, Anda boleh percaya kota ini adalah kota pembuat wig (rambut palsu) dan bulu mata palsu terbesar di Indonesia2. Namun, selain itu Anda juga patut percaya Purbalingga adalah kota film, bahkan ada yang menyebut Purbalingga Hollywood-nya Indonesia3.
Selasa, 20 Desember 2011
Lama
Pukul 06:30 Sutono sudah siap menunggu bis di depan
rumahnya. Ia masih ingat semalam ia menunggu lama di bengkel tapi motornya
belum beres.
5, 10, 15 menit Sutono menunggu dan bis baru datang. Sutono
menggerutu.
Di dalam bis yang penuh oleh anak sekolah dan perempuan PT
itu ia tidak dapat tempat duduk. Ia menunggu setengah jam hingga semua anak
sekolah turun untuk dapat tempat duduk disamping seorang bakul wedus. Sutono menggerutu lagi.
Takut Mati
Malam intim kurenungi
pikiran sendiri kurenangi
menekur jalan yang alpa
merasakan kefakiran yang kusut
Ada sakit badan tak terobati
ada duka menggerogoti hati
ada saja ketakutan akan mati
Kamis, 10 November 2011
Hujan Semalaman
Ini lakon hujan semalaman
Atap rumah tak henti berdetak
Kucing tidur nyenyak
Sedang tikus gaduh berkejaran
Aku mencoba mengatupkan mata
Tapi otakku seperti dipenuhi serangga yang menyala
Aku dan hujan terjaga semalaman
Kita seperti teman yang sama tak beruntung
Telah banyak mencurahkan peluh, tapi pelangi tak kunjung
datang
“Mungkin kita salah jalan, atau waktu,” sesalku
Mendengar itu hujan makin muram, membumbui petir malam yang
gusar
Seperti jerit dari hati terdalam
“Dimana kebahagiaan sebenarnya?”
aku laron
aku laron
yang dulu menyangka diri kunang-kunang
nyatanya aku lebih redup dari malam
aku laron
yang dulu merasa bisa jadi kupu-kupu
nyatanya bunga-bunga menolakku
aku laron
yang dulu bermimpi terbang tinggi
nyatanya sayapku ringkih, nyalipun tipis
Langganan:
Postingan (Atom)