Namanya Ario Donovan. Nama yang sebenarnya
keren. Tapi teman-temannya lebih suka memanggilnya Dono sambil tertawa mengejek.
Dono sendiri selalu membalas dengan tertawa lebar, yang tulus, memamerkan
gigi-gigi tonggosnya. Pun ketika orang-orang berulah memanggilnya lebih
mengejek, “si bodoh”.
Dono tidak benar-benar bodoh. Hanya
perkembangan kecerdasan dan perilakunya yang tidak sempurna. Itu pun tidak
sejak Dono lahir. Saat ia berusia 10 tahun, rumahnya kebakaran ketika tengah
lelap tertidur. Ibunya berjuang keras membawanya keluar dari kobaran api. Dono
selamat, tapi karena menghirup banyak asap, otaknya mengalami kerusakan
permanen. Sedang ibunya mengalami luka
bakar dan trauma serius hingga akhirnya meninggal.
Dono kemudian diasuh seorang bibinya yang juga
janda seperti ibunya. Bibi Darmi punya seorang anak perempuan berusia 8 tahun,
tapi si kecil Anisa tidak pernah menyukai Dono. “Tidak apa-apa, Dono,” kata Bibi
Darmi, persis seperti yang sering ibunya katakan ketika masih hidup, membuat
Dono tergugu. “Kamu tolong jaga Anisa, ya,” pesan Bibi Darmi kemudian ketika kesehatannya
memburuk. Puncaknya, saat Bibi Darmi meninggal karena sakit ketika Anisa
berusia 15 tahun, Anisa habis-habisan menyalahkan Dono. Menurutnya, ibunya
meninggal karena terlalu lelah mengurus Dono yang bodoh.