Senin, 03 Juni 2013
Penjual Es Tung Tung dan Supir Taksi
Jumat, 30 November 2012
Rangkuman Workshop Penulisan Skenario @Owabong Cottage – Day 2
![]() |
Foto bareng usai workshop (mirip rombongan tour :p ) |
Kamis, 29 November 2012
Rangkuman Workshop Penulisan Skenario @Owabong Cottage – Day 1
Minggu, 18 November 2012
Kunci
“Ah, Mba’e aja yang nggak percaya diri,” timpal Icha. Mereka berdua berselonjor di kamar kost Runi. Di luar langit mengukuhkan mendung.
“Sama temenku aja gimana, Mba?” pancing Icha lagi. Meski Runi lebih tua 3 tahun darinya, Icha kadang yang jadi tempat curhat, kadang pula gantian.
“Ogah. Temenmu emang ada yang beres?” Makin tak terbayangkan bagi Runi untuk selingkuh dengan salah satu teman Icha.
“Iiih, Mbae. Ada lah. Ada tuh yang perhatian, baik. Tapi masih 19 tahun. Hehe...,” cengir Icha.
“Ogah banget,” tolak Runi keki.
“Ada lagi, Mba. 25an kayaknya umurnya. Guru,” Icha tak menyerah berpromosi.
“Teyuuss?” kali ini Runi pura-pura tertarik.
Kamis, 11 Oktober 2012
Pangkalan Udara
Anak lelaki bertubuh gendut itu mengejar temannya. Yang dikejar tertawa-tawa karena tak tersusul.
Pesawat tua di pinggir lapangan jadi tujuan mereka.
“Hhhh.. Kamu larinya cepat sekali,” keluh si gendut Farhan sambil mengatur nafasnya.
“Makanya kamu jangan makan terus,” ledek Arya yang sampai lebih dulu di kabin pesawat yang seperti lorong itu. Farhan manyun.
“Far, kalau sudah besar aku mau jadi TNI Angkatan Udara!” kata Arya kemudian dengan mantapnya di pintu pesawat. Rambutnya dimainkan angin.
“Kalau aku mau jadi polisi. Biar bisa nembak kamu. Do do do dorr!” Farhan mengacungkan jarinya seolah pistol.
Sabtu, 24 September 2011
Random Pictures
Senin, 08 Agustus 2011
Alun-Alun Purbalingga Jepretku
Enjoy some of photos I took at Alun-Alun Purbalingga. :)
7 Agustus 2011


Jumat, 15 Juli 2011
Mungkin Dandelion
Di depan, laut jernih memantulkan alpha
Dan kau tak takut, kita mengadu bintang hingga larut
Aku tidur di pundakmu, dan kau pergi menyelam
Jauh ke dalam, jiwa kita yang lapang
Aku tergugu dan merasa aman
Cerah-tenang seperti morning glory
Oh, kau yang hidup di imaji

Kau kelu di tatap-muka biru, aku berkeluh
Sama melukis senyum, tapi merobek wajah kemudian
Kita seperti pendatang di Antartika
Aku mengajakmu pulang, tapi kuncinya mengabu di tanganmu
Kita memilih hilang di kerumuman, meski ingatan menarik-narik kerjujuran
Berjalan mengganjili diri, biar waktu yang menang
Pucat-retas seperti dandelion di padang
Ya, kita di realita
Selasa, 05 Juli 2011
Coret-Coretku

#ini ceritanya gambar bapak-bapak yang bawa rumput di kepalanya. ide dapet pas bikin liputan di Limbasari, Purbalingga.

#ini juga dimuat di MAKSA #2. aku belum bisa ngewarnain bagus pake PS. jadi aku minta tolong Enu, adik kelasku, buat warnain gambar ini. :p
Nyusul

#belajar ngomik edisi kedua. edisi pertama lebih parah n ga sempet di-scan, udah lecek. ==
lumayan, dipasang di MAKSA #2, media kelas menulisku. :9
Vanilla Cake
Farah memungut kerang di pasir pantai, ombak mencandai kakinya. Cahaya bulan mengabarkan kerang itu cantik untukku, Farah tersenyum. Ganti angin mencandai rambutya. Seseorang memperhatikan tak jauh darinya.
Handi, yang memperhatikan itu, memasukkan kedua tangan ke saku jaketnya. Malam yang dingin untuk lelaki berkacamata itu.
Handi masih memperhatikan. Farah yang kini duduk di pasir menengok, tahu ada yang memperhatikannya sejak tadi. “Kemari,” Farah yakin dengan ajakannya.
Handi yang tak yakin, ia mendekat ragu, tapi akhirnya duduk juga di samping Farah. Hidungnya menangkap aroma vanilla yang lembut.
"Menurutku, bulan itu seperti roti croissant,” Handi membuka pembicaraan dengan tema aneh. “Karena itu memang crescent moon,” Farah tersenyum, memandang Handi.
“Menurutku lagi, awan-awan itu seperti kepala jamur,” masih aneh, Handi menunjuk gumpalan awan di kiri bulan. “Semakin dingin di sini. Ayo, aku punya kopi dan vanilla cake di kamar,” Farah bangkit menarik tangan Handi, tak peduli lagi dengan celotehannya. Tapi…
Saat menengok, justru yang ditariknya adalah lelaki berkepala jamur dengan senyum roti croissant! Dan…treeettttt… Alarm Farah menjerit membangunkannya. “Dasar Handi! Di mimpi pun tetap aneh dan tidak peka,”Farah merutuk di kamarnya, merasa lucu dengan mimpinya barusan.
“Harusnya tadi aku meminjami Farah jaketku. Kasihan dia kedinginan,” Handi menggaruk kepala di kamarnya, juga baru terbangun dari mimpi anehnya. (Alfy Aulia)
Kamis, 16 Juni 2011
Sorry,
Gazing at the moonlight
Looking for the reason you may sign
Whether it’s wrong or right
I’ll try to be tight
‘Cause the night you made for me
taught me many things;
Relationship doesn’t meant at all
if you can’t value the moment you’ve shared
Sorry doesn’t work, if you still hurt
Night is the place I let off my regrets
And the sky is the place you hang up your dreams
We’re different, I’m sure
But, why don’t we learn to accept, again?
May be in another time, you might hear me
Above the crowd of the disapproval;
forgive me.
(alfyaulia-16/6/11)
Skizofrenia
Olan baru menarik selimut, HPnya bergetar kecil. “Check email. Aku kirim FF. Minta komentar,” bunyi SMS Iwan. “Besok pagi, ya. Aku udah matiin laptop, males nyalain lagi,” balas Olan, ia malas beneran.
“FF “Ketela” endingnya kurang tajam. Yang “Laut” aku suka,” Olan me-sent komentarnya setelah mengecek FF Iwan di email. Ia justru merasakan FF Iwan punya karakter yang sama dengan FF-nya.
Jam setengah sembilan malam, Olan masih memacari laptopnya. Dari layar Ms.Word ia beralih sebentar ke Beranda-nya, Iwan Ol. “Lagi mbenerin FF?,” Olan main tebak.
“Belum mood,” Iwan membalas dengan smiley melet. “Btw, apa kabar El?” Olan mulai memancing. “El? Hmm… Hanya senyum untuk dia,” Iwan memicingkan mata seperti smiley-nya.
“Aku tahu El, kaya’nya,” Olan memancing lagi, menunggu reaksi Iwan. “Haha,” Iwan tertawa di chatbox-nya. Olan lalu mengirimkan sebuah link profil FB, seseorang yang ia yakini sebagai El, berdasarkan observasinya.
“Bukan dia. Haha,” Iwan tertawa lagi.
“Tapi feelingku bilang gitu. Hayoo..,”Olan belum menyerah.
“Tapi bukan dia.”
“Haha,” kali ini Olan yang tertawa.
“Strange is the songs in our conversation.”
“Maksudnya?”
“Maksudnya aku dan dia berinteraksi dalam bahasa aneh,”
“Hah? El itu alien, ya?”
“Maybe.”
“Parah.”
“Jangan-jangan dia hanya ada dalam pikiranku saja. Haha. Skizofreniaku kumat.”
“Skizofreniaku?”
“Bukan apa-apa.”
“Wew! Gangguan otak? Dopamin? Gangguan jiwa?” Olan kaget sendiri dengan hasil googling-nya tentang penyakit aneh itu. “Ternyata bukan cuma Insomnia akut. Parah.”
“Haha,” lagi-lagi Iwan tertawa di chatbox-nya. “Biarlah itu menjadi sisi lain hidupku.”
Olan pamit dari chatbox-nya setelah Iwan bilang ia tengah cari inspirasi. Olan juga sedang ingin cari inspirasi. Inspirasi mengobati Skizofrenia mungkin. “Ah, mengucapkannya saja sulit.”
(alfyaulia-11/6/11)
Sabtu, 11 Juni 2011
Mainan Baru

Iseng maenin foto adekku.
Cast: Panggih Ahya Alika (adekku), Arlan (temannya Panggi).
Muka polosnya, ga tahaaann.. >_<
haha. :p
Monolog
Rasa lelah mengantarkan Olan tidur, tapi rasa lelah pula yang membuatnya terbangun dua jam kemudian, melihat HP dan tidak ada pesan dari si Insomnia. “Mungkin sedang bisa tidur cepat,” pikirnya, lalu mencoba kembali tidur sendiri.
“Seperti pesanmu yang akan bertransformasi, dari mortality menjadi immortality,” Olan membaca status Iwan di Beranda, sedikit mengerutkan dahi. “Jam segini?” Olan lalu meng-klik chatbox FB-nya menjadi aktif. Iwan Ol.
“Hai,” Olan menulis di chatbox. “Hai,” Iwan membalas dengan menyelipkan smiley senyum. “Jam segini Ol? Nggak kerja?” Olan penasaran. “Kerja. Ini nyolong internet kantor,” jawab Iwan, kali ini dengan smiley tawa.
Seperti biasa, mereka membahas menulis dan film. Iwan lalu mengirimi Olan sebuah link. “Apa?” Olan bertanya sebelum membuka link itu, ia sebenarnya tahu itu link blog Iwan. “Bagus nggak?” Iwan juga tahu Olan pasti akan membuka link itu.
Surat untuk El, judul tulisan di blog Iwan tersebut. Olan mencermati isinya. Ia juga menemukan puisi dengan tema serupa, Bait Rindu Untuk El.
“Dalam,” komentar Olan kemudian di chatbox. “Cuma itu?” Iwan tak puas. “Hmm, jelas menimbulkan pertanyaan. Siapa El? Boleh tahu?” pancing Olan kemudian. “Someone in somewhere,” jawab Iwan, membuat kepala Olan dijatuhi banyak tanda tanya, sekaligus tanda seru.
“Jika kau sudah sulit mengingatku, aku malah sudah malas mengingatmu. Aku bersumpah kau tak akan bahagia denganku. Haha,” Olan kembali ke Beranda dan menemukan status Haris. Olan membenarkan letak kacamatanya dan merasakan mukanya terasa panas.
“Maybe ‘she’ he meant wasn’t me,” malamnya Olan bermonolog lagi dengan hatinya. Ia tidak ingin merasa bersalah atau menyesal. “Someone in somewhere, semua orang juga punya itu kan? Apa kabar someone in somewhere-ku ya? Someone yang mungkin bahkan tidak aku kenal saat ini. Apa dia sudah makan?” monolog Olan jadi agak ngelantur, ia menertawai sendiri pikiran randomnya.
“Ah, hidup memang bukan untuk ditebak-tebak kan? Dan godaan itu untuk dinikmati,” masih bermonolog, Olan mengingat lagi note FB-nya dulu. “Just go with the wind saja lah,” Olan menutup monolognya sendiri, lalu mewarnai dinding dan langit-langit kamarnya dengan warna matahari dan bintang, sesukanya.
(alfyaulia-9/6/11)
Alergi
Olan melihat Iwan dari tepi alun-alun. Bukannya segera memarkir motornya, Iwan malah tersenyum dan memutar jalan alun-alun sekali lagi. “Ngledek!” gerutu Olan lucu dalam hati.
“Hai,” Iwan duduk menjejeri Olan, tersenyum. “Cari es krim, yuk! Tapi aku ga bawa helm, muter ke situ sebentar mbok boleh?” Olan menunjuk minimarket di sisi barat alun-alun. “Nggak usah lah,” Iwan menolak. “Laahhh, ayoo,” Olan setengah merengek. “Aku lagi pilek,” itu cukup membuat Olan diam, mencuri pandang kemudian.
Iwan lalu membuka tasnya, menunjukkan beberapa lembar kertas. “Mau aku buat skenario film,” kata Iwan bersemangat. Origami, Olan membaca judul tulisan itu. “Menurutmu? Kasih aku saran, ya,” Iwan memberondong Olan. “Belum selesaaiii,” Olan menjawab gemas, melanjutkan membaca. Ia mengagumi tulisan Iwan.
“Aku sakit. Berangkat kerja setengah hari,“ Iwan membalas SMS Olan yang menanyakan kenapa ia tumben meng-SMS-nya tengah siang. “Masih pilek?” tanya Olan kemudian.
“Aku Alergi. Badanku merah-merah semua. Kemarin aku salah makan,” Iwan menerangkan sakitnya. “Istirahat dan minum air putih yang banyak ya, biar cepat baikan,” Olan melayangkan perhatian, lalu kembali ke layar laptop tanpa perhatian penuh.
“Dek, kapan ada waktu? Mas mau bicara,” SMS Haris menyusul. Olan menarik nafas. “Jangan sekarang. Nanti aku SMS lagi,” Olan membalas singkat SMS pacar complicated-nya itu.
“Masa aku ketularan ‘alergi’? Kenapa malas sekali untuk bicara lagi dengannya? Bagaimana aku harus memulai ‘tolong’, ‘maaf’, dan ‘terima kasih’ ?” Olan bermonolog dengan hatinya, mencoba mengingat wajah Haris, sulit.
(alfyaulia-8/6/11)
Senin, 25 April 2011
Kembang Kopi
Aku menarik celana panjangku agak tinggi menghindari genangan air. Semalam turun hujan lebat dan inilah sisa-sisanya. Ah, aku juga ingat semalam Mas Toro tidur duluan, mengacuhkanku. Mungkin dia kelelahan menyupir mobil kami dari Jogja. Kalia juga langsung tidur dengan neneknya.
Kiri kananku sekarang adalah tumbuhan tetean (teh-tehan) yang tumbuh cukup tinggi dan rimbun, membentuk pagar sepanjang jalan setapak yang berbatasan dengan kebon tetangga ini. Ini tentu bukan jalan setapak yang asing bagiku. Aku menghabiskan masa kecilku dengan berlarian di sini, juga bermain di kebon sebelah itu. Masa kecil bocah desa.
Mataku lalu menanggap gerombolan bunga putih di antara daun-daun lebar sebuah pohon yang tidak terlalu tinggi. Bunga kopi. Cantik. Aromanya khas. Mataku menatap cukup lama bunga-bunga putih bersih itu. Akan aneh jika aku menuruti keinginanku untuk memetiknya dan ada orang lihat. Warung, teh, gula. Otakku memerintahkanku kembali ke tujuan awal.
“Bun, kok celanamu kotor begitu? Abis dari sawah?” tanyanya usil sambil melirik ke celanaku yang penuh bercak tanah. “Ini kan gara-gara Ayah nyuruh Bunda ke warung pagi-pagi, “ kataku sambil balik iseng menempelkan sendok teh ke hidungnya. Mas Toro meringis lagi. Ih, bikin gemas.
“Yah, tadi Bunda lihat kembang kopi di jalan setapak sebelah waktu mau ke warung. Cantik deh, “ceritaku seperti anak kecil. Aku mengikuti Mas Toro yang duduk di bangku panjang di depan meja makan sambil membawa teh manis yang kubuatkan tadi. “pasti Bunda pengen metik, “ tebak Mas Toro. “Hehe, iya, Yah,” kali ini aku yang nyengir. “Bunda ingat? Dulu kan ayah juga pernah kasih Bunda kembang kopi, tapi malah Bunda jadiin buat masak-masakan sama Sutri, “ katanya lalu menyeruput tehnya. Aku mengernyit, mencoba mengingat-ingat.
“Sut, aku tek nggolet janganan disit, ya,¬1“ kata gadis kecil berponi yang kemudian bangkit menuju deretan tanaman singkong. Tanaman singkong itu tumbuh subur, daunnya hijau menjari. Ia memetik beberapa lembar daun. Mbok2 nanti mau dimasak sama Nini Sipur, pikir si gadis kecil. Tentunya dimasak betulan, bukan masak-masakan seperti yang Nuryani, nama gadis kecil 6 tahun itu, dan Sutri, temannya, itu lakukan sekarang.
Dua bocah kecil ini memang sering bermain bersama di kebon di samping rumah Nuryani. Kebon yang ditumbuhi tanaman singkok karet, pohon kelapa, pohon pisang, pohon duku, tanaman talas, pohon kopi, dan tanaman singkong yang is petik daunnya tadi itu memang milik Nini Sipur, wanita tua yang hidup bersama suaminya yang seorang 3. Mereka berdua menempati sebuah rumah kayu kecil di bagian depan kebon ini, tepat menghadap jalan raya dan sejajar dengan rumah Nuryani, hanya dipisahkan jalan setapak. Kaki nini4 ini terkenal sebagai pasanga senja yang sayang terhadap anak-anak kecil di lingkungan mereka dan suka membagi-bagikan makanan. Nuryani sendiri paling senang saat pohon manggis dan jambu air di depan rumah mereka berbuah, ia akan menjadi yang pertama dipanggil untuk ikut memetik dan menikmati buahnya.
“Eh, kamu namanya siapa?” tiba-tiba seorang anak laki-laki 10 tahun berdiri di belakang Nuryani. Nuryani kaget. Ia membalik badan agak ragu. Namun, ia lalu menjawab dengan lantang, “Nuryani. Lha kamu siapa?” kata Nuryani ikut berbahasa Indonesia seperti ia meniru ibunya. Nuryani menatap penuh selidik anak laki-laki berwajah bulat dan berbadan agak gempal itu. “Aku Sutoro, cucunya Nini Sipur. Aku mau pindah ke sini. Rumahku yang kemarin di Sleman, “ceritanya tanpa diminta. Nuryani tidak tahu Sleman dimana, tapi ia enggan bertanya.
“Kamu lagi mainan apa? Aku ikutan, ya”, pinta Sutoro kemudian. Nuryani memandang takjub. Anak yang aneh, pikirnya. “Masak-masakan. Benar mau ikutan?” kata Nuryani. “Kalau mau ikutan, kamu harus ikut nyari janganan 5dulu, “ tantang Nuryani kemudian. Sutoro senang saja. Ia melihat gerombolan bunga-bunga putih di pohon yang tidak terlalu tinggi. “Itu mau? Ditaruh di rambutmu juga bagus, “ katanya sambil tersenyum memamerkan giginya.
“Tapi Mak, aku nggak suka sama Mas Harno. Aku masih nunggu Mas Toro, “kata Nuryani menolak permintaan mamaknya untuk mendekati dan menikah dengan Harno, salah satu pemuda di desanya yang baru pulang dari Jakarta dan langsung membeli sepeda motor baru dan merenovasi rumah orang tuanya.
“Mamake sering ketemu Harno di Jakarta. Bocahe6 pekerja keras. Nggak kaya Mas Toro-mu itu yang nggak jelas kerja apa di Jogja. Wong kuliahnya saja pertanian, paling ya macul7 di kota, “kata mamak tidak mau kalah.
Nuryani diam. Ia kesal. Mboke, nenek Nuryani yang mendengar ribut-ribut dari kamarnya lalu mendekat. “Uwis lah Mar. Ora usah dipaksa. Lha wong Nuryani be urung tamat sekolahe8, “ kata Mboke. Nuryani merasa sangat terbela. Mamak diam saja. Sepertinya ia masih pada keinginannya.
Kepada Mas Toro
di Jogja
Assalamu ‘alaikum wr. wb. Mas Toro, bagaimana kabar Mas di Jogja? Sehat-sehat saja kan?
Mas, Nur sudah lulusan hari Senin kemarin. Tapi Nur masih bingung mau kerja apa. Mamake maksa mau bawa Nur ke Jakarta kalau Nur nggak segera dapat kerja di sini. Padahal Nur nggak mau ke Jakarta. Bisa-bisa Nur dinikahkan sama Mas Harno di sana. Mamak ngeyel mau menjodohkan Nur sama Mas Harno, Mas. Nur nggak mau. Nur masih mau nuggu Mas.
Tapi Nur bingung, Mas Toro sendiri merasa ditunggu sama Nur nggak, Mas? Mas Toro kan dulu bilang katanya sayang sama Nur. Nur kangen, Mas…
Wassalamu ‘alaikum wr. wb.
Nuryani
di Purbalingga
Assalamu ‘alaikum wr. wb. Puji syukur kepada Allah SWT yang selalu melimpahkan kasih sayangnya sehingga kau selalu dalam lindunganNya, begitu juga Masmu ini di sini.
Maafkan Mas, Dek. Mas memang sedang sibuk belakangan ini sehingga belum sempat mengirimkan surat kepadamu terlebih dahulu. Tapi Mas senang, Dek Nur masih mau mengirimi Mas surat. Mas senang baca surat Dek Nur sambil membayangkan wajah manis Dek Nur. Mas juga kangen sama Dek Nur.
Dan Dek Nur tahu? Mas juga nggak akan rela kalau sampai Dek Nur menikah dengan orang lain. Mas harap Dek Nur mau bersabar sedikit lagi. Mas di sini sedang berusaha mengembangkan bisnis coffe shop Mas. Insya Allah, kalau tabungan Mas sudah cukup, setelah lebaran nanti, Mas akan melamar dan menikahi Dek Nur. Dek Nur bisa beri tahu hal ini ke Mamak Dek Nur, supaya beliau tidak buru-buru menjodohkanmu dengan orang lain.
Yakinlah Dek, Mas akan selalu setia sama Dek Nur, kekasihku yang secantik kembang kopi nan putih.
Oh ya, kalau Dek Nur bingung mau kerja apa, bagaimana kalau Dek Nur sering-sering nulis surat untuk Mas saja. Mas akan senang sekali, apalagi kalau Dek Nur mau menulis surat yang lebih panjang biar Mas lebih lama bacanya. He he… Mas juga sedang menyiapkan pekerjaan istimewa untukmu, menjadi istri cantikku.
Salam sayang dan rindu selalu. Wassalamu ‘alaikum wr.wb.
Sutoro
“Nah, sudah ingat, kan?” kata Mas Toro sambil mencubit pinggangku. “He he. Iya, Yah, “ kataku kegelian.
“Lho Yah, Kalia kemana? Tadi bukannya setelah bangun tidur terus keluar rumah sama Ayah?” tanyaku ingat putri kecilku. “Iya. Tadi ketemu Rifki, anaknya Bu Yati depan rumah itu, terus diajak main, belum mau pulang, “cerita Mas Toro. Aku tersenyum.
“Apa nanti Kalia juga dikasih kembang kopi sama Rifki ya, Yah?” kataku membayangkan putri 6 tahun kami itu juga dipetikkan bunga kopi sama sepertiku. “Ha ha. Mungkin saja, “kata Mas Toro lalu mencubit pinggangku, lagi.
1. Sut, aku nyari sayuran dulu, ya.
2. siapa tahu
3. penjual pisang
4. kakeh nenek
5. sayuran
6. dia
7. mencangkul
8. Sudah lah, Mar. Nggak Udah dipaksa. Lha orang Nuryani saja belum tamat sekolahnya.
Kata penulis: sebuah cerpen yang hmm, ckakakk, unyu-unyu. :P
Sabtu, 19 Maret 2011
Menetaskan Uneg-Uneg
Usia Untuk Dimaklumi Sebagai anak-Anak Makin Berkurang
Hari Rabu, 16 Maret kemarin saya ulang tahun. Emang tahun bisa diulang ya? Baiklah, katakan saja saya makin berumur. 19 tahun, itu usia yang aku genapi tahun ini. 19 tahun, hanya butuh satu tahun lagi untuk berumur 20 tahun. Usia yang entah bagaimana awalnya aku harap-harap cemaskan. Usia yang aku bilang sudah tidak bisa – dan tidak boleh - dikatakan anak-anak lagi.
Berapa banyak orang yang mulai menata hidup di usia 20 tahun? Seberapa banyak yang masih menganggapnya usia “have fun”? Sepertinya perbandingan jumlahnya seperti seluncuran.
Back to my 19th birthday. Nothing special. Just myself, laptop, and daily works. Oh ya, 70 ucapan selamat di FB dan 2 SMS. Aneh, orang berkurang umurnya kok malah diselamati. Tapi ya, aku bilang terima kasih saja untuk kesediaan mereka repot-repot menulis di wall FBku, juga aku amini saja setiap doa baik yang mereka kirimkan.
Ya, sepertinya memang aku butuh banyak doa dan kerja keras, tentunya, memasuki usia 19 tahun ini. Gimana nggak? Aku masih tetap kurus aja, tabungan masih segitu-gitu aja, HPku belum juga ganti, bahkan buku kuliah yang harus aku baca juga nggak maju-maju halamannya. Yang makin banyak justru masalah dan ketidakpuasan. Tahun ini aku harus lebih baik, pasti. Tapi apakah sehat hidup dengan pikiran “berat” seperti itu?
Rabu sore itu aku beromantis-romantis dengan diriku sendiri. Menekuk lutut dan memeluk tubuhku sendiri. Menelengkupkan wajah dan menyelami pikiranku, mengajaknya berdamai. Ayolah fikiranku yang keras kepala, berdamailah dengan hati banyak mau ini, lebih baik memantapkan langkah dan tersenyum ringan.

Tolong Dibantu Ya, Dihargai Ya, Prok Prok Prok
Aku bukan lagi mau main sulap-sulapan tapi…mau ngoceh. Apa ABG sekarang itu labil semua? Nggak bisa belajar menghargai orang lain? Sukanya SMS semaunya. Ngomong semaunya. Bertindak juga seenaknya. Terserah sih kalau ABG labil ketemu ABG labil, mau adu labil juga silahkan, tapi kalau jadinya malah makan ati orang diluar arena labil itu? What the hell!
Jadi, tolong ya, dibantu ya, belajarlah menghargai orang di sekitarmu. Sementara itu saya juga akan mencari cara berlaku “santai” terhadap kalian, adik-adik labilku. Prok prok prok.
Sayang, Kok Kamu Gitu Sih?
Pasti kalian juga sering mengatakan atau berfikir seperti ini: Sayang, kok kamu gitu sih, kepada orang tersayang kalian. Sebenarnya kalau mau lebih lengkap dan jujur, kalimat itu
bisa diteruskan menjadi: Sayang, kok kamu gitu sih? Kenapa kamu nggak kayak gini aja. Kenapa kamu nggak kayak kamu yang biasanya? Kenapa kamu nggak jadi seperti yang aku mau aja? Kenapa kamu berubah? Kenapa? Kenapa?
Akan ada banyak sekali “kok gitu sih” dan “kenapa” yang memenuhi otak kita ketika si dia mendadak “aneh” di mata kita. Terlebih kalau kita sendiri lagi sensi (baca: kelewat sensitif), semua omongan dan tindakannya menjadi sulit diterima. Dan sepertinya saya jadi pengen balik ke sub-judul di atas lagi; tolong ya, dibantu ya, Sayang, kalau aku lagi sensi, kamu jangan ikut-ikutan sensi.
Sayang, kok kamu itu sih? Kalau aku lagi sensi, kamu jangan ikut-ikutan sensi...
Sent to MasQ
18/Mar/2011
21:02
Maafin mas ya, Sayang…
Sender: MasQ
18/Mar/2011
21:20
Menonton TV Seminggu Sekali
Berapa jam kamu menonton TV sehari? Apa yang kamu dapat? Bagaimana perasaanmu?
Saya sejak kost dari awal masuk SMK 4 tahun lalu, hanya menonton TV seminggu sekali. Meski ya, pengecualian saat liburan panjang, menonton TV jadi cara mentok untuk membunuh waktu di rumah. Tapi saat normal seperti sekarang, saya hanya menonton TV seminggu sekali. Dan saya tidak harus merasa kehilangan apa pun. Entah itu lanjutan sinetron yang lagi seru (katanya) atau berita bencana terbaru langsung dari DPR atau Jepang.
Saya menonton TV seminggu sekali. Menonton Doraemon, Sinchan, Sule, dkk lalu tertawa. Ikut menonton sinetron lalu menaikkan alis, ceritanya maksa. Juga menonton berita lalu mengganti channel dan menemukan yang serupa, dramatis. Adik saya yang baru 3 tahun lebih suka menonton iklan, dan sepertinya saja jadi ikut-ikutan. Anyway, iklan “life is an adventure”-nya susu formula itu keren, ya?
Saya menonton TV seminggu sekali, dan justru merasa beruntung dikondisikan seperti ini. Saya tidak perlu meluangkan waktu dan pikiran untuk sinetron, infotainment, dan berita yang sejenis itu: berlarut-larut.
Ah, saya berharap ada sesuatu yang baik dari tayangan TV Indonesia sekarang ini, sesuatu yang mungkin bisa memaksa saya membeli TV dan memasangnya di kamar kost.
Selasa, 08 Maret 2011
Catatan Harian Orang (Nggak) Penting!
Kamis kemarin, aku sama Mas Kasad datang ke Bazaar Buku Purbalingga di GOR Mahesa Jenar. Seingatku dulu waktu aku masih SMK juga pernah ada bazaar buku di tempat yang sama dan aku datang sama Via. Kasihan Via dia nggak bisa datang ke Bazaar Buku tahun ini karena harus balik kuliah ke Semarang. Eh, Vi, aku malah ketemu adikmu, Dian, lho!
Aku sama Mas Kasad muter-muter nggak begitu lama, berhubung sudah sore dan dia ada keperluan lain, jadi dia pulang duluan. Nggak rela juga sih ditinggal pulang duluan, tapi ya sudahlah. Setelah Mas Kasad pulang, aku lalu bergabung dengan teman-teman dari Kelas Menulis yang sudah asyik bertanya jawab dengan dua orang dari Penerbitan di tengah panggung – wuih naik panggung!
Aku pun segera masuk ke keasyikan bertanya jawab itu, aku bertanya tentang kesempatan menjadi penerjemah buku asing dan menerbitkan buku yang modelnya seperti buku harian, seperti yang biasa aku tulis ini. Dan ya, jawaban dan respon dari bapak-bapak penerbitan itu cukup membuatku tertarik dan bersemangat. Aku pengen nulis buku, beneran deh!
Menjanda
“Akan ‘menjanda’ selama lima bulan.
*hmm, baiklah ini memang status untuk ditertawakan. Hahaa..”
Itu adalah status yang aku tulis di Facebook hari Jum’at kemarin. Menjanda? Ya, itu cuma istilah yang aku buat untuk keadaanku lima bulan ke depan saat aku ditinggal Mas Kasad ke Cianjur. Meski ini bukan kali pertama ditinggal – dulu pernah ditinggal 3 bulan ke NTT, dan biasanya juga aku di Purbalingga dia di Jogja - tapi tetap saja rasanya sedih dan nggak enak. By the way, banyak yang ngasih komentar dan jempol untuk status itu lho. Hehee..
Menjanda. Biarin deh kali ini ditinggal, yang penting nantinya aku nggak mau ditinggal-tinggal lagi, apalagi sampai menjanda beneran. Tidaakk!
Dan untuk Mas Kasad, aku tetap berdoa yang terbaik untukmu. Dimanapun dan bagaimanapun, semoga Tuhan selalu memberikan kemudahan dan kasih sayangNya.

(Harus) Belajar (Lagi)
Kenapa sih judulnya dikurung-kurung kaya’ gitu? Takut pada kabur? Hahaa.. Suka aja. Dan ya memang itulah yang aku maksud: (harus) belajar (lagi). Intinya ada pada kata belajar. Lalu tambahan kata “harus” di depan dan “lagi” di akhir adalah detailnya – mungkin.
Setetalah hampir setahun tidak lagi menjadwalkan diri pada aktifitas belajar, dalam arti membaca buku pelajaran dan mengerjakan soal, sekarang aku mulai harus memaksa diriku melakukannya lagi. Sistem belajar di Universitas Terbuka yang mandiri memang mengkondisikan mahasiswanya “belajar sendiri”: pesan buku, baca buku, latihan soal, buka CD tutorial, buka tutorial online, lalu ujian. Kalau ada materi yang susah, punya teman kelompok, dan ada “kelebihan uang” baru boleh minta kelas tatap muka sama dosen. Seseorang mengatakan – dan menyemangati – padaku untuk dijalani dan dinikmati saja prosesnya. Pasti ada manfaatnya, tekannya. Ya, aku percaya kok kalau nggak ngapain juga capek-capek ndaftar.
Tapi – ini tapinya – mengkondisikan diri untuk belajar lagi itu nggak mudah, hei! Ya malas, nanti sajalah, aku mau ini dululah.. Terpaksa harus teriak-teriak ke dalam diri sendiri, “Hei, Alfy Aulia ayo belajar! Wong kamu udah rela-relain bayar sendiri masa nggak mau belajar?” Lalu, “OK aku belajar, tapi abis nulis catatan ini, ya.” Haduuh..
Malam Minggu Dan Hari Minggu Minggu Ini
Sebelum Minggu ini, biasanya aku menghabiskan malam Minggu dan hari Minggu di rumah. Tapi entahlah dengan malam Minggu dan hari Minggu minggu ini, aku memilih tidak pulang dan tetap di kost. Bermalam mingguan dengan buku “Tuhan Sang Penggoda”nya M.Arief Budiman, laptop, dan SMSan terasa tidak terlalu buruk tapi juga tidak terlalu menyenangkan. Menyisakan sedikit ruang kosong di hatiku – biasanya di rumah aku menonton TV dengan adikku lalu memasak mi instant dan dimakan bareng, biasanya…
Hari Minggu ini aku bangun siang, itu pun karena perutku terasa lapar. Setelah mandi sekenanya – dingin – aku jalan ke depan RS HI beli bubur ayam. Makan sendiri di kost. Sisi kosong hatiku ngoceh lagi, biasanya aku makan banyak sayur dan buah di rumah, biasanya aku..., biasanya... Halah biasanya-biasanya! Anggap saja ini sesuatu yang nggak biasanya karena kamu memang bukan orang biasa, orang aneh, pemberontak! Ya, mungkin begitu.
Malam Minggu. Hari Minggu. Semoga ada minggu-minggu yang lebih indah dan lebih baik dari minggu ini.
Boleh Aku Bicara Sedikit Tentang Tuhan?
Tuhan. Kapan pertama kali kamu mengenal nama itu? Bagaimana dengan hari ini? Aku pun menanyakan pertanyaan itu pada diriku sendiri. Dan jawabannya aku lupa kapan pertama kali aku mengenalnya – saat aku kecil mungkin – lalu hari ini…aku ingat Dia, meski tidak seintens aku mengingat masalah-masalahku sendiri.
Tuhan. Aku percaya dia ADA. Aku tersenyum membaca prolog di buku “Tuhan Sang Penggoda” – lagi-lagi buku itu – ketika mengingat ada seseorang yang menafikan ke-ADA-an Tuhan. Meski ya, semua orang punya kebebasan untuk berurusan dengan Tuhan, kepercayaan, dan sejenisnya.
“Tuhan itu tidak ada. Bodohlah orang yang mengakui Tuhan ada, sesuatu yangtidak masuk akal, tidak logis, tidak rasional.Tuhan itu angan-angan orang picik, orang kuno, kepercayaan masa lalu. Alam semesta ini hadir sesuai hukumnya sendiri, tak perlu ada Tuhan untuk menciptakannya. Kita lahir, kita hidup, kita mati: hukum alam memang begitu. Kamu tidak akan bisa membuktikan Tuhan itu ada karena Tuhan memang tidak pernah ada. Tidak pernah ada.”
Temannya:
“Tapi kok kamu menyebutnya. Berkali-kali malah…”
Meski aku hanya seorang perempuan tanggung 19 tahun. Meski aku belum lama berjilbab dan hanya memakainya saat keluar rumah. Meski puasa Ramadhanku kemarin bolong 9 hari. Meski sholatku terseret-seret. Meski imanku kayak jungkat-jungkit. Meski mataku, lisanku, tanganku, kakiku masih susah sinkron bertaubat. Meski AlQur’anku lebih sering aku anggurkan. Meski sedekahku hanya kadang jika ada receh. Meski aku bukan sholehah yang anggun dan santun. Tapi aku percaya Tuhanku, Allah yang satu. Mengharap kasih sayangNya. Mengharap pertolonganNya.
Tuhan mungkin tidak pernah minta dibawa dalam sebuah tulisan, entah di awal, tengah, atau di akhir – seringnya. Namun, membawaNya pada sebuah tulisan, jika berhasil, akan menyiramkan keteduhan pada tulisan itu sendiri. Ini menurutku – bukan sedang menyanjung tulisanku sendiri lho, memangnya aku siapa?