Jumat, 30 November 2012

Rangkuman Workshop Penulisan Skenario @Owabong Cottage – Day 2

Foto bareng usai workshop (mirip rombongan tour :p )

Hari kedua Workshop Penulisan Skenario (30/11) dimulai. Kami sarapan terlebih dahulu, lalu pukul 08.00 mulai melanjutkan pembahas semalam tentang premis. Meski semalam aku nggak bisa tidur pulas karena kedinginan, kepanasan, kedinginan lagi, aku tetap mencoba konsentrasi mengikuti.

Usai merampungkan bahasan premis, Mas Pidi lanjut ke bahasan baru dengan melontarkan pertanyaan, “Apa itu karakter? Apa itu karakterisasi?”

Kamis, 29 November 2012

Rangkuman Workshop Penulisan Skenario @Owabong Cottage – Day 1


“Skenario yang baik belum tentu menjadi film yang baik. Tapi film yang baik pasti dibuat dari skenario yan baik.”

Kalimat yang disampaikan oleh Perdana Kartawiyudha itu menjadi pembuka sesi 1 workshop penulisan skenario “6 Tahun Festival Film Purbalingga” siang ini (29/11). Pembicara utama yang akrab disapa Mr.Pidi itu lalu menguraikan problem umum penulisan skenario yang kerap dijumpai. Problem itu antara lain tidak memahami cara kerja film, kurangnya referensi, salah mengartikan skenario, dan kurang mampu memilih ide serta cara mengembangkannya.

Pembahasan langsung diselingi tanya jawab tentang kesulitan yang pernah peserta alami. Saya sendiri menanyakan bagaimana caranya mengatasi roaming. Maksudnya jika ada pesanan skenario yang meminta tema gaya hidup perkotaan dan segala macamnya, tapi kita sendiri tinggal bukan di kota besar dan memiliki gaya hidup yang biasa-biasa saja. Maka menurut Mas Pidi (saya lebih suka manggilnya begitu), solusinya adalah riset, bisa dari buku-buku, internet, atau mendengarkan cerita orang agar kita punya gambaran. Sebaliknya, ia mengingatkan untuk tidak membuat cerita yang terlalu personal dan memaksakan keinginan pribadi.

Kamis, 22 November 2012

13 Wijayakusuma

Ibu kostku tiba-tiba begitu semangat mengajakku keluar melihat bunga wijayakusuma yang katanya baru mekar maghrib tadi. Aku pun manut mengikutinya.


Dan aih..cantiknya.

Bunganya berwarna putih dengan kelopak besar-besar dan harum sekali.. Hebatnya, ada 13 bunga yang mekar secara bersamaan. 11 di samping kiri rumah dan 2 di samping kanan. Semarak.

Ibu dan bapak kost pun bergantian menceritakan kisah di balik bunga wijakusuma itu.

Minggu, 18 November 2012

Kunci


“Tapi aku nggak punya bayangan kalau nggak sama dia, Cha. Sama siapa, gimana,” Runi memulai lagi sesi curhatnya setelah terdiam lama.

“Ah, Mba’e aja yang nggak percaya diri,” timpal Icha. Mereka berdua berselonjor di kamar kost Runi. Di luar langit mengukuhkan mendung.

“Sama temenku aja gimana, Mba?” pancing Icha lagi. Meski Runi lebih tua 3 tahun darinya, Icha kadang yang jadi tempat curhat, kadang pula gantian.

“Ogah. Temenmu emang ada yang beres?” Makin tak terbayangkan bagi Runi untuk selingkuh dengan salah satu teman Icha.

“Iiih, Mbae. Ada lah. Ada tuh yang perhatian, baik. Tapi masih 19 tahun. Hehe...,” cengir Icha.

“Ogah banget,” tolak Runi keki.

“Ada lagi, Mba. 25an kayaknya umurnya. Guru,” Icha tak menyerah berpromosi.

“Teyuuss?” kali ini Runi pura-pura tertarik.

Kamis, 15 November 2012

Remah Ramah

Apa kabar, Sayang?
Lama tak menyapa lewat bait
Karena kita gagal di suara dan rupa
Jadi kupikir menulis saja

Kau tahu, Sayang?
Tuhan baru saja mengingatkan
Aku yang pemarah
Agar jangan kelewatan

Kau tahu bagaimana?

Minggu, 11 November 2012

Si Penyelamat

Sudah sejam Ifa memilih buku. Membaca sampul per sampul: Keajaiban Sedekah, Hikmah Sholat Dhuha, Teladan Rasulullah, Menjadi Istri Sholihah.

Ingin Ifa beli semuanya. Tapi ia tidak ingin menghabiskan seluruh uang di dompetnya. Akhirnya ia beli satu majalah muslimah dan kumpulan cerpen islami.

Ifa bayar cepat. Dari tadi Astri sudah mengingatkannya untuk sholat. Sudah jam 4, waktu ashar sudah semakin singkat.

Merekapun segera keluar dari toko buku di tempat perbelanjaan itu. Sembari berjalan ke parkiran, Astri bercerita tentang buku yang dibacanya tadi, yang mewakili keinginannya untuk berjilbab. Ifa mendukung penuh, menepuk-nepuk pundak Astri dari jok belakang.

Motor Astri berhenti di lampu merah. Dari pinggir jalan, seorang anak kecil 7 tahunan mendekat, mengulurkan tangan. Ifa membuka dompet, memberikan sekeping koin.

“Mba, di depan ada polisi, lho,” kata anak kecil itu menunjuk seberang bundaran.

“Iya,” sahut Astri.

“Astaghfirullah, As. Helmku! Helmku belum dipakai,” Ifa baru sadar dengan maksud anak itu. Panik.

Jumat, 02 November 2012

Masakan Ibu

Semalem abis nonton film Le Grand Chef 2: Kimchi Battle. Mrebes mili. Dan jadi pengen nulis ini:
Asal mula makanan enak adalah dari ibumu. Ia yang pertama kali memberimu makan dan melatih indera perasamu. Maka ketika kau makan di luar, hanya makanan yang bisa mengingatkan akan masakan ibumulah yang bisa menggetarkan hati dan membuatmu mengatakan enak dengan tulus.

Ibuku seseorang yang tidak suka masak ribet. Ia irit dalam menggunakan bumbu dan api. Karena itu, aku suka masakan yang rasanya tidak terlalu tajam dan tidak terlalu matang. Tumis kangkung yang masih hijau segar, sayur bening bayam kencur, sayur tauge dan caesim. Belakangan aku tahu masakan seperti itulah yang baik bagi kesehatanku. Yang masih mempertahankan rasa asli dan nutrisi.
   
Terkadang, hanya masakanlah yang bisa meruntuhkan tembok pemisah antara aku dan ibu. Dan diam-diam, ibu menjagaku lewat masakannya.

Pasti begitu juga ibumu. :)