Kamis, 10 November 2011

Hujan Semalaman


Ini lakon hujan semalaman
Atap rumah tak henti berdetak
Kucing tidur nyenyak
Sedang tikus gaduh berkejaran
Aku mencoba mengatupkan mata
Tapi otakku seperti dipenuhi serangga yang menyala

Aku dan hujan terjaga semalaman
Kita seperti teman yang sama tak beruntung
Telah banyak mencurahkan peluh, tapi pelangi tak kunjung datang
“Mungkin kita salah jalan, atau waktu,” sesalku
Mendengar itu hujan makin muram, membumbui petir malam yang gusar
Seperti jerit dari hati terdalam
“Dimana kebahagiaan sebenarnya?”

aku laron

aku laron
yang dulu menyangka diri kunang-kunang
nyatanya aku lebih redup dari malam

aku laron
yang dulu merasa bisa jadi kupu-kupu
nyatanya bunga-bunga menolakku

aku laron
yang dulu bermimpi terbang tinggi
nyatanya sayapku ringkih, nyalipun tipis