Ada perasaan yang buncah
Tumpah, luber kemana-mana
Seperti kopi pagi yang mambrah
Pada cangkir mungil yang tak siap
Hari ini hari minggu yang berbeda. Aku tidak ke Kelas Menulis Purbalingga seperti biasanya. Pagi ini aku sudah berangkat ke Dusun Pagerjirak, Kejobong dan bersama Mba Titi aku menuju SD N 3 Kejobong.Hari Minggu ini suasana SD N 3 Kejobong juga berbeda. Banyak anak-anak seperti hari sekolah biasa. Ada apa, ada apa?
Lomba menggambar dan mewarnai! Asyiiikk..
Label: catatan, Purbalingga
Dwititi Maesaroh, aku memanggilnya Mba Dwi, kadang juga Mbak Titi. Aku mengenalnya belum lama. Waktu itu lihat di FB teman, ternyata dia tinggal di Pagerjirak, Kejobong, dekat desaku, jadi aku add. Lalu aku lihat foto-foto Rumah Baca yang dia upload. Tertarik!
Aku pun mengiriminya pesan lewat FB, disambut baik. Saat cerita kepada Mas Bangkit, mentor Kelas Menulis Purbalingga, aku juga disuruh menulis tentang Rumah Bacanya untuk rubrik Tilik Kampung di Suara Merdeka.
Label: catatan, Purbalingga
“Baik, aku tidak janji akan pulang lagi!” tegas si lelaki. Suaranya beradu bunyi pintu dibanting.
Suara tangis keras perempuan menyusul. Ia memaki, menjerit.
Kebanggaannya sebagai istri hancur. Suaminya ia dapati berbagi hati.
Suara tangis keras perempuan menyusul. Ia memaki, menjerit.
Kebanggaannya sebagai istri hancur. Suaminya ia dapati berbagi hati.
Kapan terakhir aku menyumpal telingaku dengan lagu
memandang keluar, jendela bus yang berembun
kelu meninggalkan ibu
Langgan:
Entri (Atom)

