Selasa, 20 Desember 2011

Lama


Pukul 06:30 Sutono sudah siap menunggu bis di depan rumahnya. Ia masih ingat semalam ia menunggu lama di bengkel tapi motornya belum beres.

5, 10, 15 menit Sutono menunggu dan bis baru datang. Sutono menggerutu.

Di dalam bis yang penuh oleh anak sekolah dan perempuan PT itu ia tidak dapat tempat duduk. Ia menunggu setengah jam hingga semua anak sekolah turun untuk dapat tempat duduk disamping seorang bakul wedus. Sutono menggerutu lagi.


Ia sampai kantor jam pukul 07:30. Menunggu hingga pukul 08:10 untuk melihat semua rekan kerjanya datang. Sutono mengejek mereka siput.

Sutono harus menunggu Lina memfotokopikan laporannya. Juga menunggu Parjo membuatkannya kopi. Lagi-lagi Sutono mengutuk mereka lelet.

Kemudian, Sutono harus menunggu bosnya untuk menyerahkan laporan. Setelahnya ia menunggu tanda tangan si bos yang justru sibuk bertelepon. Sutono kesal.

Selanjutnya Sutono disuruh pergi ke bank. Ia mengantri dengan bersungut-sungut. Kembali ke kantor dengan raut kusut.

Sutono menunggu jam makan siang dengan gusar. Menunggu jam pulang dengan gelisah. Ia selalu tidak sabaran.

Pulangnya ia jengah membayangkan harus berdesakan di bis lagi. Ia begitu lelah, berjalan tanpa arah.

Sutono menemukan sebuah bangunan berkubah di jantung Purbalingga. Ia masuk. Tak perlu menunggu, apalagi mengantri.

Sutono sejuk. Ia nikmati sujudnya yang ia perlama.

2 komentar:

  1. Wow Amazing ceritanya, ingin sekali seperti pak topo yg mendapatkan kesejukan tanpa antri - amin :)

    BalasHapus
  2. amiin. :)
    kesejukan bisa didapatkan siapa saja yg mau meringankan hati dan kakinya mendekat ke Sang Pemilik.

    BalasHapus