Senin, 14 Mei 2012

Konflik

Kenapa berteriak kepada orang lain jika kau meminta tenang?
Bukankah hanya jadi tambah gaduh
Meskipun diam, hati kita saling tuduh
Lalu kenapa kita mengunci mulut jika ingin dimengerti?
Aku tak bisa meramal, apalagi bersikap malaikat

Kaulah tua, sudah dipercaya
Menyimpan lelah, berkeras menutup alpha
Kadang meledak juga
Seperti matahari runtuh di kepala
Kelihatannya benar-benar saja
Tapi kadang luput juga perasaan kami

Kamilah muda, masih egois dan sesukanya
Ingin makan, tendang piring
Ingin tidur, peluk kasur
Kalau senang, tertawa-tawa
Meski saat sedih akhirnya...
Kami tetap ingin rengkuhan pelipur, bagaimanapun
Kami telah rela disayang, dibentak, dibandingkan
Kami selalu rindu pulang
Duhailah, ibu-bapak

Tidak ada komentar:

Posting Komentar