Senin, 23 April 2012

Nyala Mata Perempuan Purbalingga

Perempuan-perempuan di kotaku, Purbalingga, Jawa Tengah, adalah pahlawan keluarga dan industri. Mereka bekerja membuat bulu mata palsu dan wig (rambut palsu) di pabrik-pabrik milik investor Korea, plasma1, bahkan rumah-rumah. Tak kenal lelah, meski sebenarnya ironi dan eksploitasi. Mereka bertahan dengan upah rendah, jam kerja tak lumrah, dan mata lelah. “Tak apa, asal anak bisa sekolah, asal dapur tetap ngepul,” aku mereka. Mereka rela bekerja siang malam, mengaitkan ratusan helai bulu mata palsu satu-persatu, setiap hari. Mereka rela meninggalkan anak-anak kecil mereka dengan nenek atau ayahnya. Sampai marak istilah “Pamong Praja” alias papa momong mama kerja (bapak merawat anak, ibu bekerja).

Perempuan buruh rambut sedang membuat bulu mata palsu.
(image source: antonaktualita.blogspot.com)
Buruh-buruh perempuan di kotaku membuat perempuan-perempuan di belahan bumi lain mengerjap-ngerjap cantik, sedang mereka mengusap-usap mata pedih dan kabur. Dari jerih mata mereka, kotaku tersohor bangga. Purbalingga kota produsen bulu mata palsu terbesar nomor dua di dunia, penyumbang pendapatan tertinggi se-Indonesia. Sayangnya, investor dan  Pemkab lalai dengan kesejahteraan dan masa depan para Kartini muda. Investasi maju, tapi pendidikan mandeg. Bangku sekolah jadi lebih cepat ditinggalkan, para gadis muda beralih ke bangku-bangku pabrik dan plasma yang menjamur di tiap desa. Mata-mata indah mereka tak lagi merunut ilmu di buku-buku pelajaran, tapi mematut jalinan rambut-rambut palsu. “Buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau bisa cepat bekerja?” retoris buruh perempuan yang masih berusia belasan. Miris. Meski sebenarnya mereka masih ingin menikmati masa sekolah, keadaan memaksa asa mereka mengalah.

Kartini kotaku, buruh-buruh pabrik hebat yang mengorbankan banyak waktu, tenaga, dan harapan pendidikan. Mereka yang membuat kotaku berdenyut dan menyala pongah, tapi menyisakan nyala redup di mata mereka sendiri. Mereka sosok nrima ing pandum2 yang tak hanya patut akan penghargaan, tapi juga perhatian lebih akan kesejahteraan dan pendidikan.

----------------------------------------------

1. Tempat pembuatan rambut dan bulu mata palsu di desa atau kecamatan
2. Terima apa adanya.
                                           

Tidak ada komentar:

Posting Komentar